Serunya Mbolang Ke Air Terjun Coban Siuk, Malang

Pintu masuk kawasan air terjun Coban Siuk

Eksplorasi wisata yang asik itu ke tempat yang bagaimana sih? Yang sedang nge-hits biar dibilang selalu update? Atau ke tempat wisata yang belum banyak diketahui orang lain? Sebenarnya dua duanya asik kok. 

Kalau kita pergi ke tempat wisata yang sedang nge-hits, kita tidak akan ketinggalan saat ada obrolan tentang tempat ini. "Orang Malang masa iya belum tahu kawasan wisata Coban Rais?" atau, "Ngakunya travel blogger, masa iya gak tau kampung Jodipan? Please deh!" Wuuuh, rasanya gimana gitu kan. Haha.

Sedangkan kalau berkunjung ke tempat wisata yang belum terkenal, kita bisa memberikan informasi kepada wisatawan tentang tempat wisata tersebut. Tentang keadaan riil di lokasi tentu, bukan hanya hasil googling. Nah itu salah satu gunanya kita eksplorasi langsung ke lokasi wisata yang belum dikenal orang.

Oh iya, teman teman sudah pernah mendengar tentang Coban Siuk dan Coban Sisir? Belum? Hahaha, sama sih. Aku juga baru mendengar dan melihat langsung keindahan dua air terjun ini, hari Sabtu kemarin bersama Bolang (Blogger Kompasiana Malang) 

View keren menuju lokasi wisata

Adalah mbak Lilik yang pertama kali mengajukan rencana agar kami mengunjungi kawasan wisata yang belum terkenal di Malang ini. Jadi, kalau di Januari kami sudah mengunjungi kawasan wisata paling nge-hits di kota Batu yaitu kawasan wisata Coban Rais, maka kegiatan mbolang bulan ini, giliran ke tempat wisata yang belum dikenal orang.

Terletak di desa Taji, kecamatan Jabung, kabupaten Malang, dua air terjun yang terletak dalam satu kawasan dan berjarak hanya sekitar 100 m ini, bisa ditempuh kurang lebih satu jam saja dari pusat kota Malang, dengan catatan tidak sedang dalam keadaan macet. Jalan yang dilalui juga bisa dibilang lumayan bagus, tapi pesan saya, saat ke kawasan ini sebaiknya jangan menggunakan mobil, karena meskipun jalan beraspal bagus, tapi lebar jalan hanya cukup untuk satu mobil dengan keadaan kanan kiri berupa jurang maupun tebing. Bisa dibayangkan kalau di jalan ini mobil kita berpapasan dengan sesama mobil, salah satu mobil harus mengalah untuk mundur, padahal jarak dari tikungan pertigaan jalan ke arah Coban Jahe dan arah Coban Siuk hingga sampai ke pintu masuk kawasan wisata Coban Siuk cukup jauh, 3 km tepatnya. 

Setelah melalui jalan berliku dengan pemandangan yang menawan di kanan kiri sepanjang 3 Km, kami sampai di pintu masuk kawasan air terjun Coban Siuk sekitar jam 11.30 siang. Karcis masuknya murah meriah, rp. 5000 saja. Fasilitas yang tersedia juga sudah lumayan bagus, toilet lumayan bersih, dan ada satu warung sederhana yang menyediakan makanan dan minuman yang juga sederhana. 

Coban Siuk, Malang

Coban Sisir, Malang

Air terjun yang pertama kita temui saat masuk ke kawasan ini adalah Coban Sisir. Dinamakan Coban Sisir, karena saat difoto, aliran airnya sangat mirip dengan rambut ikal panjang yang terurai. Loh, kenapa gak dinamakan Coban Rambut ikal saja? entahlah. Dengan ketinggian hanya sekitar 15 m, Coban ini sangat aman digunakan untuk bermain air bahkan di bawah curahan airnya sekalipun. Dan jika kita berdiri di bawah  curahan air terjun, rasanya pundak kita seperti sedang dipijat oleh pemijat profesional, aku mengalaminya sendiri loh. Yaaaah, biarpun saat pulang aku langsung masuk angin karena aku tidak membawa baju ganti dan pulang dengan baju basah, haha.

Sekitar 100 meter dari Coban Sisir, kita akan menemui sebuah air terjun dengan ketinggian berkisar 70 meter dengan curah air yang lumayan besar. Karena curahan airnya besar inilah, pengunjung dilarang untuk berenang di bawah air terjun, karena ditakutkan air bah tiba tiba datang dan menghanyutkan pengunjung, maklum sedang musim hujan. Alhasil, kami hanya berfoto foto di sekitar air terjun dan tidak berani untuk ke tengah kolam apalagi ke bawah air terjun. Coban ini disebut Coban Siuk karena aliran air terjun dari atas ke bawah seperti meliuk liuk. Tapi ada juga yang bilang bahwa di tempat ini dulu tinggal seorang wanita tua yang bernama mbok Siyok. Mana yang benar? Ah gak penting, yang penting air terjun nya sangat indah, cocok untuk me-refresh pikiran yang sedang suntuk.

Fasilitas toilet umum

Satu satunya warung di lokasi wisata

Kolam alami untuk berenang

Di tempat ini juga terdapat kolam alami yang terbentuk oleh aliran 2 air terjun tersebut, dan dikelilingi oleh batu batu besar, terlihat beberapa anak kecil sedang berenang dengan riang di kolam ini. Kami juga bertemu beberapa penduduk lokal yang kebetulan sedang pulang mencari rumput atau membawa pisang sebagai hasil panen dari kebun mereka. Lumayan mahal sih, satu tandan pisang yang masih hijau dihargai rp. 80.000, gak jadi beli deh.

Puas mengeksplorasi wisata alam yang indah ini, sekitar pukul 3 sore kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi dan menuju ke sawah pak Rahman di kecamatan Poncokusumo untuk sekedar melepas kangen. Dibanding teman teman lain, petani Bolang yang satu ini memang termasuk sangat sibuk sehingga jarang bisa ikut kegiatan yang kami agendakan. Dan agar silaturahmi tidak terputus, maka kami yang sering mengunjungi beliau di sawah maupun rumahnya. Seperti pesan tetua Bolang, pak Yunus, "ono dipangan bareng, gak ono sabar bareng." Yang artinya adalah, "kalau ada dimakan bersama, kalau gak ada ya bersabar bersama," susah senang ditanggung bersama, intinya mungkin begitu ya. 

***
Untuk reservasi homestay murah di kota Batu, hubungi nomer ini saja ya 081334338080




Comments

  1. Wui, serunya bareng2 Mbolang. Ono dipangan bareng, ga ono sabar bareng :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sederhana sekali ya motonya, anw, thanks udah mampir :-)

      Delete
  2. Selalu ada penampakan Desol Desy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan bolang namanya kalo gak ada mbak desol, ane thanks ya

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos