[Fiksi] Sayang, Kau Mati Saja


Dia terlihat cantik, sangat cantik. Terlalu cantik untuk membiarkannya menjadi milik orang lain. Aku bisa gila!. Ataukah sekarang aku memang sudah gila?. Aku begitu mencintainya dan aku sangat takut kehilangan dia. Aku tak kuasa melihat dia berada di pelukan orang selain aku. Tidak!. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. 

"Aku akan menikah Riv," ujarnya tiba tiba. Aku tersentak tak percaya. 

Dengan cepat aku memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Matanya mengerjap indah, aneh, ada setetes air di ujung matanya. Raut mukanya pun tak secerah biasanya, ada kecemasan disana. "Kamu bercanda kan Dey, kamu pasti sedang bercanda. Kamu mencintaiku, aku tahu. Dan kamu tidak akan pernah meninggalkan orang yang kamu cintai untuk menikah dengan orang lain." 

Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, "Ya Riv, aku hanya bercanda." Sedetik kemudian ia memeluk erat tubuhku hingga aku hampir tak bisa bernafas. 

"Ah, kau hampir membuatku gila Dey!" 

*** 
Sudah kali ketiga kekasihku yang cantik itu menolak ajakanku untuk datang ke apartemenku, tempat dimana kami biasa memadu kasih. Padahal hari ini aku benar benar rindu. Aku sudah membayangkan memeluk tubuhnya dari belakang saat ia datang,  lalu menciumi lehernya yang jenjang. Bahkan aroma parfum yang biasa ia pakai sudah tercium jelas hingga mengacaukan isi otakku. 

"Alasan apa lagi yang akan kamu berikan Dey?, ibumu mengajakmu untuk menjenguk nenekmu yang sudah tua?, atau penyakit lambung ayahmu kambuh lagi?, tak biasanya kamu begini Dey, aku begitu merindukanmu dan aku bisa gila kalau kamu begini terus."  

"Penyakit lambung ayahku kambuh sejak semalam Riv, dan aku harus menemaninya ke Rumah sakit. Rasa rinduku sebesar rindumu padaku Riv, kamu pasti tahu," jawab Dey singkat sebelum menutup telpon. Aku menggigit bibirku kuat kuat, perih. Darah segar menetes perlahan. 

Rasa rinduku yang terlalu, membawa mobilku kearah rumah orang tua Dey, kekasihku itu memang masih tinggal bersama kedua orang tuanya karena Dey anak tunggal. Mobilku aku pacu kencang dan aku merasa beruntung karena mobil Dey masih terparkir  di depan rumah.  Aku memarkir mobilku di tempat yang tak bisa dilihat dari rumah Dey, tapi aku masih bisa melihat mereka saat keluar rumah. Semoga ayah Dey tak mengenali mobil milik orang yang pernah ia usir karena ketahuan tengah mencium bibir putri tercintanya di teras rumah. 

Setengah jam telah berlalu namun mereka belum juga keluar dari rumahnya. Aku hampir saja nekad masuk ke rumahnya saat terlihat sebuah mobil fortuner berwarna hitam memasuki halaman rumah Dey. Pria muda keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia keluar lagi sambil menggandeng tangan Dey, Dey?, tunggu, aku pasti salah melihat, tidak mungkin kekasih yang mencintaiku itu mau digandeng orang lain. Aku mengucek kedua mataku, aku berharap mataku yang sedang bermasalah, tapi tidak, wanita yang sedang digandeng tangannya itu memang Dey. Sial!. 

*** 

Belakangan ini sulit sekali bagiku untuk menemui Dey. Dia juga tak pernah mau mengangkat telponku ataupun membalas sms ku. Akun media sosialnya juga sudah tidak aktif semua. Sepertinya dia sengaja menghindariku. Dan aku marah. Bisa bisanya dia melakukan hal ini padaku. Apartemenku pun tak ubahnya seperti kapal pecah. Barang barang yang aku lemparkan sebagai sasaran kemarahan, berserakan. Sudah satu minggu aku tidak masuk kerja, untungnya dokter langgananku berkenan memberikan surat keterangan sakit. Toh aku memang sedang sakit, jiwaku yang sakit!.   Desas desus tentang rencana pernikahan Dey mulai santer terdengar. Jadi saat itu dia tidak sedang bercanda, dan mungkin orang yang menggandeng tangan Dey itulah calon suaminya. Aku tak akan membiarkan orang lain memilikimu Dey, tak akan pernah. 

"Sebelum kamu benar benar menikah, maukah kamu menemuiku untuk terakhir kalinya Dey?, atau kamu lebih memilih agar aku mencari calon suamimu dan menceritakan kisah kita kepadanya. Ah, aku tak dapat membayangkan reaksinya saat mendengar ceritaku tentangmu, tentang kita Dey," aku menulis pesan singkat bernada ancaman dengan harapan Dey mau membalasnya.  

Benar saja, tak selang berapa lama sms balasan Dey masuk ke HP ku, "aku terpaksa menikahinya Riv, orang tuaku sudah tua, mereka ingin cucu dan aku satu satunya putri mereka. Mereka ingin aku hidup normal sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi anak anakku, cucu cucu mereka." 

"Aku tunggu kamu di apartemenku malam ini Dey, kalau kamu tidak datang, besok aku akan mencari calon suamimu dan membuatmu malu di hadapannya, aku tidak sedang bercanda." 

"Baiklah," tulis Dey singkat tapi mampu membuatku tertawa senang. 

*** 

Aku seperti hewan buas yang tak pernah mendapatkan mangsa hingga mengerang kelaparan. Seperti itulah saat aku mendapati Dey masuk ke apartemenku.  Aku langsung melucuti segala yang dikenakannya dan bercinta dengan kalap. Dey pasrah dan melakukan apapun yang aku minta. Entah karena dia masih cinta ataukah karena takut aku akan menemui calon suaminya, apa peduliku.  

"Kamu mau kopi Dey?", tawarku ketika kami telah usai bercinta. Dia mengenakan kembali bajunya dan duduk santai di sofa apartemenku berteman sampah sampah yang berserakan. Dey menganggukkan kepala. Aku meracik kopi hitam kesukaannya, kali ini aku meracik juga untukku. Biasanya aku tidak suka kopi, tapi ini kali terakhir aku menemani Dey minum kopi, dan aku ingin minum minuman yang sama dengannya. 

"Terimakasih Riv, dan aku ingin menjelaskan semuanya padamu," ujarnya sambil menerima cangkir kopi dariku. 

Dey mencium aroma kopinya sambil memejamkan mata. Itu kebiasaannya sejak lama. "Sudahlah, ini hari terakhir kebersamaan kita dan aku sedang tidak ingin merusak suasana," aku duduk di sebelahnya dan menirukan apa yang dia perbuat pada cangkir kopinya. 

"Kamu tahu aku mencintaimu Riv, selamanya begitu," Dey menyeruput kopinya. 

"Aku tahu Dey, aku tahu."  

Dey memekik tertahan, lehernya seperti tercekik hingga ia sulit bernafas. Tangannya menggapai ke arahku dan aku memeluknya erat. Mulutnya mengeluarkan busa dan aku menjilatinya dengan rakus. Jika kamu tidak lagi menjadi milikku Dey, tak ada orang lain yang boleh memilikimu. Kopi yang aku racik itu telah aku campur dengan bubuk sianida. Begitu pula dengan kopi yang baru saja berpindah ke perutku. Jika Tuhan tak mengijinkan kita bersama di dunia Dey, setidaknya aku akan selalu menemanimu di neraka. 

*** 

Aku adalah Riv, orang tuaku memberiku nama Rivalia Sinta, tapi aku lebih memilih dipanggil Riv. Aku lelaki yang terperangkap di tubuh wanita dan aku begitu membencinya. Apakah kamu tahu sakitnya mencintai orang yang berjenis kelamin sama denganmu?, tanyakan padaku, aku tahu rasanya. Sakit, sakit sekali. Dan Dey, Dey wanita yang mencintaiku dengan tulus, tapi keluarganya ingin dia hidup normal. Tapi tentu saja aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi. Dey milikku, hanya milikku.

***
Baca juga fiksi yang satu ini http://www.erenhomestaybatu.com/2016/10/fiksi-kuliner-soto-istimewa-untuk_24.html?m=1

Comments

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos