Museum Angkut, Semua sudutnya Selfie-able loh




Miniatur pelabuhan Sunda kelapa

Jika anda pernah liburan ke kota Batu atau sedang merencanakan liburan ke Kota Batu, pasti anda sudah tidak asing dengan tempat wisata yang satu ini. Museum angkut, nama yang sudah familiar bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu, begitu juga bagi para tamu yang pernah menginap di Eren homestay. Sebenarnya, kalau ada tamu yang kebetulan menginap di eren homestay dan bertanya tentang tempat wisata di kota Batu khususnya wahana wisata buatan, aku cukup galau untuk menjawab pertanyaan mereka. Maklum, sebagai orang asli Batu, aku malah belum pernah masuk ke wahana wisata yang sudah sangat terkenal di kalangan para pelancong seperti Museum satwa, predator park, eco green park, Jatim park 1, BNS, maupun museum angkut. Aku memang tipe orang yang lebih senang menghabiskan waktu libur di tempat wisata alami seperti pantai, air terjun, dan lain lain dibanding di wahana wisata buatan.

Mobil antik di Hall utama

Kereta kencana

Nah, beberapa hari lalu, kebetulan aku mendapat dua buah voucher tiket gratis untuk masuk ke museum angkut, akan tetapi aku baru sempat untuk menggunakannya hari ini. Aku pergi bersama putri semata wayangku, Mayang. Museum angkut sendiri ternyata cukup luas dan terbagi menjadi 8 zona dengan ciri khas masing masing.

Usai menukarkan tiket dengan gelang yang harus dipakai selama mengunjungi museum, kami langsung masuk ke zona pertama yang disebut Hall utama. Di dalam ruangan ini terdapat berbagai macam jenis kendaraan antik yang mempunyai nilai sejarah, ada mobil, motor, sepeda, kereta kencana, hingga helikopter tua. Di lantai atas hall bahkan juga ada pesawat asli boeing 737 yang di dalamnya terdapat simulator kokpit yang bisa dipraktekkan langsung.

Keluar dari Hall, kita disambut dengan ornamen ornamen Cina yang menghiasi zona kedua yaitu zona Pecinan. Kita seperti berada di China town saat melangkah melintasi zona ini.

Zona Pecinan

Gudang Batavia

Di sebelah Zona Pecinan, ada Zona Batavia yang memberikan gambaran tentang kota Jakarta tempo doeloe dengan gudang Batavia-nya yang berisi berbagai jenis moda angkutan tempo doeloe yang dilanjutkan dengan replika pelabuhan Sunda kelapa lengkap dengan kendaraan angkut antik yang berjejer di pinggir jalan.

Keluar dari pelabuhan Sunda kelapa, kita sampai di zona Gangster town yang menyerupai jalanan di Amerika. Di zona inilah tiap weekend diadakan parade museum angkut.

Gangster town

Vespa Italia

Jalanan kota London

Paris

Zona selanjutnya adalah zona Eropa yang diawali dengan lokasi ala pinggiran jalan negara Italia, yang dilanjutkan dengan lokasi ala negara Prancis, Jerman, dan Inggris. Tentu saja dengan berbagai kendaraan angkut khas negara negara tersebut. Karena zona Eropa berada di dalam ruangan dengan pencahayaan yang bagus, zona Eropa ini terkesan lebih eksotis dibanding zona yang lain.

Di depan Buckingham palace

Keluar dari zona Eropa, kita akan melihat sebuah gedung besar mirip istana yang ternyata merupakan replika istana Buckingham Inggris. Kendaraan khas negara Inggris terutama yang biasa digunakan oleh keluarga kerajaan, dipajang di dalam istana ini. Di pintu keluar dari Buckingham palace, ada sebuah kotak saran lengkap dengan kertas dan alat tulisnya, dan putriku pun langsung menulis kritik dan saran, entah apa yang ditulisnya saat itu, yang pasti emaknya asik jeprat jepret aja. Haha.

Zona selanjutnya adalah zona Las vegas yang disusul dengan zona Hollywood. Ada tiruan Batmobile dan The mysteri machine loh, dan Ada juga mobil yang rusak diinjak Hulk, #eh. Zona Hollywood adalah zona terakhir yang bisa kita kunjungi di museum angkut, dan selanjutnya kita akan sampai di pintu keluar yang dibikin model stasiun kereta api uap.   Serunya lagi, jalan keluar dari stasiun dibuat seperti di dalam kereta api yang sedang melaju lengkap dengan getarannya.

Kemarahan Hulk

Lorong pintu keluar mirip di dalam kereta api

Masih di lokasi yang sama dengan museum, terdapat tempat wisata yang tak kalah seru yaitu pasar apung dan museum topeng D'Bagong. Berbeda dengan museum angkut, kita tak harus membayar untuk masuk ke pasar apung, kecuali kalau kita mau naik perahu, kita dikenakan biaya rp 10.000 per orang untuk sekali putaran.

Pasar apung

Kesan yang aku dapat saat mengunjungi museum angkut ini adalah semua tempat, semua sudut, yang ada di museum ini sangat cocok untuk berfoto baik wefie maupun selfie. Kalau ada yang bilang museum adalah tempat untuk belajar, jangan percaya begitu saja, karena dari pengamatanku selama mengunjungi museum ini, kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh pengunjung adalah berfoto ria karena semua sudutnya, selfie-able, cocok untuk generasi masa kini yang cekrek cekrek, upload. Haha!





Comments

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos