Nusantara Coffee Festival di Gedung Among Tani Kota Batu

Walikota Batu ( kemeja putih) bersama para peserta festival kopi nusantara

Kopi merupakan minuman yang paling populer di Indonesia, tentu kita sepakat akan hal itu. Tidak hanya orang orang tua atau dewasa saja yang senang meminum kopi, anak anak kecil sampai abg labil pun banyak yang menggemari kopi. Buktinya, kalau anda sedang berada di kota Batu, di sepanjang jalan Sultan Agung Batu, banyak pedagang kopi yang mulai sore hari mangkal di atas trotoar yang hampir semua pembelinya adalah anak anak yang masih abg. Harga segelas kopi yang dijual juga bisa dibilang sangat murah, antara tiga ribu sampai lima ribu rupiah saja.

Kota Batu yang juga dikenal sebagai kota dingin memang memiliki suhu udara yang sangat cocok untuk menikmati segelas kopi panas, entah itu di pagi, siang, sore, ataupun malam hari. Tidak hanya lapak lapak penjual kopi di trotoar, warung warung kopi dan cafe, juga menjamur di kota ini. Kongkow kongkow bersama teman, keluarga, atau pacar, memang menjadi lebih seru jika ditemani secangkir kopi. 

Diskoperindag kota Batu sepertinya menyadari akan kegemaran masyarakatnya itu. Itu sebabnya, Sabtu 19 November 2016 hingga Minggu 20 November 2016, digelar festival kopi di halaman gedung among tani yang bertajuk "Nusantara Coffee Festival". Festival yang berlangsung selama 2 hari ini diikuti oleh setidaknya 30 peserta yang merupakan produsen kopi dan waralaba kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Toraja, Gayo, Flores, Jambi, Humbang Hasundutan, Tulungagung, Bondowoso, juga dari Malang sebagai tuan rumah.

Duta kopi Gayo memamerkan produk kopi mereka

Acara yang dibuka oleh walikota kota Batu, yang juga seorang penggemar kopi ini tidak hanya memamerkan produk kopi saja, tapi ada juga lomba fotografi, lomba meracik kopi, lomba latte art, dan juga penampilan band secara live. Masyarakat yang ingin datang ke festival ini juga tidak ditarik biaya alias gratis. Begitu juga kalau kita mau sekedar icip icip minuman kopi dari semua stan, gratis.  Karena gratis inilah, aku sampai ngicip 4 gelas kopi dari 4 stan, aji mumpung, hehehe.

Nah, saat berkeliling melihat berbagai stan, aku sempat melihat biji biji kopi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ukurannya lebih besar dibandingkan biji kopi biasa, biji cherry kopi Liberika, begitu tulisan yang tertera. Kopi jenis ini berasal dari propinsi Jambi dan hanya bisa tumbuh di lahan gambut karena kandungan airnya yang tinggi. Aroma yang tercium dari kopi liberika ini juga berbeda dari kopi kopi yang biasa aku minum. Karena penasaran, aku membeli satu bungkus kopi liberika asal Jambi ini untuk dicoba di rumah.

Eren homestay
Biji cherry kopi liberika

Kalau propinsi Jambi terkenal dengan kopi liberika-nya, maka kabupaten Tulungagung Jawa timur, terkenal dengan kopi hijau-nya. Disebut kopi hijau karena warnanya yang hijau kehitaman hitaman saat diseduh.  Ini karena biji kopi  hijau disangrai dengan menggunakan kayu bakar yang terpilih dan juga wajan yang terbuat dari tanah liat, dan bukan menggunakan api dari kompor, ataupun dari wajan biasa yang terbuat dari besi. Proses sangrai sendiri harus dilakukan dengan telaten dengan cara menjaga besarnya api agar tetap stabil sehingga biji kopi bisa matang dan kering dengan merata. 

Mejeng dulu di stan kopi ijo Turangga Tulungagung

Yang perlu diingat saat mengkonsumsi kopi hijau adalah perut sudah dalam keadaan  terisi, karena jika kita meminum kopi hijau saat perut kosong maka akan mengakibatkan perut kembung atau juga mules.

Selain produsen kopi dari luar daerah, di acara ini juga terdapat stan kopi lokal Malang. Bertajuk Klaster Kopi Amstirdam, kopi yang termasuk dalam klaster ini berasal dari 4 kecamatan di kabupaten Malang yaitu, kecamatan Ampel Gading, Sumbermanjing wetan, Tirtoyudo, dan Dampit. Kopi yang dihasilkan adalah jenis kopi robusta, arabika, juga kopi luwak. Meskipun produk lokal, namun kopi amstirdam ternyata sudah terkenal seantero nusantara loh, ini karena produk kopi asal Malang ini sangat berkualitas dan memiliki rasa dan aroma yang khas.

Kopi Lintong  dari kabupaten Humbang Hasundutan

Lelah berkeliling, dan puas mencicipi berbagai jenis kopi, akupun memutuskan untuk membeli beberapa bungkus bubuk kopi untuk dibawa pulang. Dan aku memilih untuk membeli beberapa jenis kopi yang selama ini hanya sering aku dengar tapi belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada kepuasan tersendiri saat mengunjungi festival kopi nusantara ini, karena selain bisa mengenal begitu banyak produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia, aku juga bisa melihat langsung seni meracik kopi dan menghias latte dari orang orang yang berkecimpung di dunia per-kopi-an, halah. Semoga kegiatan seperti ini bukan yang terakhir dilakukan di kota Batu, dan semoga di lain waktu bisa lebih meriah. Salam.




Comments

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos