Fiksi anak "Petualangan Seru di Coban Rais"

Ilustrasi hutan pinus

Raka, Tira dan Leoni adalah 3 sahabat yang sudah berteman sejak kecil karena rumah mereka yang berdekatan, tepatnya di desa Oro Oro Ombo di kaki gunung Panderman. Mereka juga bersekolah di SD dan kelas yang sama, yaitu di SDN Oro Oro Ombo 02 kelas 5B. Desa tempat mereka tinggal terletak di pinggir hutan pinus yang masih asri, yang di dalamnya terdapat sebuah air terjun yang dinamai Coban Rais. 

Sabtu siang mereka berjalan beriringan sepulang sekolah dan tiba tiba Raka berujar, "besok kita main ke Coban Rais yuk, sudah lama kita ga main kesana, semenjak kak Dito bersekolah di kota."

"Gak ah, besok aku mau menggambar untuk lomba lukis karena hari senin, hari terakhir karya lukisan dikumpulkan," jawab Leoni. 

"Tapi kan kamu bisa menggambar disana Leoni, pasti hasilnya lebih bagus karena pemandangannya juga bagus, kamu bisa melukis air terjunnya," Tira menimpali. 

" Wah bagus juga idemu Tira, ya deh, besok aku minta ibu membuat bekal makan siang buat kita, jam 8 pagi kita berangkat, bagaimana?" usul Leoni. 

"Setujuuuu!" teriak Raka dan Tira serempak. 

Esoknya, jam setengah delapan pagi mereka sudah berkumpul di rumah Leoni. Ibu Leoni sedang menata bekal makan siang buat mereka yang kemudian dimasukkan ke dalam ransel milik Raka. Ada roti isi selai kacang dan strawberry, pisang, apel, dan 3 botol air putih. "Nah beres, ingat ya, kalian harus berhati hati, dan tolong jaga Leoni karena dia satu satunya perempuan di antara kalian," pesan ibu Leoni. 

"Beres buuuu," teriak 3 bocah berusia 10 tahun itu serempak sambil mengacungkan ibu jari. 

Membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dari rumah Leoni ke air terjun tujuan mereka. Akan tetapi perjalanan itu tidak terasa melelahkan karena pemandangan indah menemani mereka. Ada deretan pohon pohon pinus yang menjulang tinggi dan daun daunnya yang berjatuhan membentuk hamparan permadani berwarna coklat. Sesekali mereka memungut kembang pinus yang kebetulan jatuh di dekat mereka. 

"Kata ibuku, waktu kecil beliau sering mencari bunga bunga pinus untuk bahan bakar memasak di dapur loh," ujar Raka disambut anggukan kepala teman temannya. 

Mereka juga sempat melihat berbagai binatang liar seperti burung Murai Batu yang berwarna hitam dengan sedikit warna merah di bagian bawah. Ada juga burung Jalak, burung yang suaranya sangat nyaring, juga burung Perenjak Jawa atau biasa disebut buruk Ciblek. Ada juga tupai yang berloncatan dari ranting pinus satu ke ranting pinus yang lain. Leoni juga sempat melompat kaget saat tiba tiba ada seekor monyet yang bergelantungan di pohon pinus tepat di depannya dengan suaranya yang sangat ramai. Di samping berjalan di jalan setapak kecil, terkadang mereka juga harus berjalan menyusuri sungai kecil atau lebih tepat disebut parit. 

Setelah berjalan setengah jam lebih dengan jalur yang mudah, sekarang mereka harus melewati jalur yang lebih sulit dengan aliran sungai yang besar. Leoni berulang kali terpeleset dan hampir jatuh, untunglah Raka dan Tira begitu sigap menangkap tangannya sebelum benar benar jatuh. 

"Leoni hati hati! awas terperosok ke dalam kedung itu karena banyak pacet!" teriak Tira. Namun teriakannya terlambat karena Leoni sudah terperosok ke dalam cekungan kecil berisi lumpur. 

Raka dan Tira pun terpaksa ikut masuk untuk menyeret Leoni keluar. Setelah berhasil, mereka segera berlari menuju sungai untuk mencuci kaki mereka dan membuang pacet pacet yang sudah menempel di kaki mereka bertiga. Pacet adalah binatang kecil penghisap darah yang biasa hidup di air kotor atau lumpur. Setelah bersih mereka melanjutkan perjalanannya kembali menyusuri tepian sungai. 

"Hei lihat! ada ular air, cantik sekali ya," teriak Raka sambil menunjuk ke arah seekor ular kecil yang panjangnya cuma sekitar 30cm dan warnanya belang hitam dan kuning. Ular itu sedang asik berenang di air yang bening. 

"Hati hati, nanti digigit loh," jawab Tira sambil menyeret Raka menjauh. 

Setelah 1,5 jam berjalan, akhirnya mereka sampai di air terjun Coban Rais. Lelah selama perjalanan langsung hilang saat melihat air terjun yang sangat cantik di hadapan mereka. Raka dan Tira langsung melompat ke kolam alami yang terbentuk oleh curahan air yang sangat besar tepat di bawah air terjun. Airnya sangat dingin seperti air yang ditaruh di dalam kulkas, tapi mereka tak merasa kedinginan. Leoni memilih untuk duduk di sebuah batu besar di tepian kolam sambil tangannya mulai menggambar. 

Setelah puas bermain air, Raka dan Tira menghampiri Leoni, "kok kamu gak nyebur ke kolam Leoni?, asik loh," tanya Tira. 

"Nanti saja setelah makan siang, lagian sketsa gambarku baru saja selesai," jawab Leoni sambil menunjukkan  kertas gambarnya kepada kedua temannya. 

"Wah, kamu menggambar kami ya?" Raka berdecak kagum melihat gambar Leoni yang melukiskan tentang dua anak laki laki yang sedang bermain air dengan latar belakang air terjun yang indah. 

Leoni tersenyum senang mendengar pujian temannya, "terima kasih," ujarnya. 

Kemudian masih dengan baju yang basah, mereka mulai menikmati bekal makan siang buatan ibu Leoni. Mereka makan sangat banyak karena perjalanan yang melelahkan membuat mereka lapar. Sesudah makan siang ,merekapun kembali mencebur ke kolam, dan kali ini Leoni ikut bersama kedua temannya, mereka terlihat sangat bahagia.

Pukul 2 siang mereka memutuskan untuk pulang karena Leoni harus melanjutkan lukisannya di rumah. Mereka berjalan sambil bersendau gurau. Pengalaman yang sangat menyenangkan. Saat sedang berjalan pulang itulah, tiba tiba terdengar suara tembakan sebanyak 2 kali, disusul teriakan teriakan ramai khas monyet. Kemudian mereka melihat banyak monyet yang bergelantungan cepat, sepertinya kumpulan monyet itu sedang panik. Bahkan mereka melihat beberapa monyet berbulu hitam di antara monyet monyet lain yang berbulu coklat. Monyet berbulu hitam adalah binatang yang dilindungi karena hampir punah. Warga desa di tepian hutan pinus lebih sering menyebut monyet berbulu hitam sebagai Bedeng. 

"Pasti ulah pemburu liar," bisik Raka. 

"Padahal Bedeng adalah hewan yang dilindungi, dan orang yang memburunya bisa dipenjara," lanjutnya. 

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Tira. 

"Lebih baik kita melaporkannya ke Polisi hutan, karena sangat berbahaya jika pemburu itu melihat kita memergoki perbuatannya," usul Leoni. 

"Kalau begitu kita harus cepat," ujar Tira. 

Lalu ketiga bocah itu pun berlari secepat cepatnya menuju pos Polisi hutan di pinggir hutan pinus. Terkadang kaki mereka menginjak bunga pinus yang keras, tapi mereka tak peduli karena mereka ingin cepat sampai. Sesampainya di pos Polisi hutan, Raka yang masih terengah engah segera melaporkan apa yang barusan dia lihat kepada pak Sukri, si Polisi hutan. 

"Dimana kejadiannya?" tanya pak Sukri. 

"Di dekat bukit Gumuk pak," jawah Raka. 

Pak Sukri segera mengajak kedua temannya untuk mencari si pemburu setelah sebelummya menyuruh Raka dan dua temannya pulang karena melihat baju mereka yang masih basah. Raka, Tira dan Leoni mengangguk setuju lalu bergegas pulang untuk mandi. 

Sorenya, Raka dan Tira bermain bola di depan rumah Leoni sedangkan Leoni asik dengan lukisannya saat pak Sukri masuk ke halaman. 

"Terima kasih anak anak, berkat informasi dari kalian kami bisa menangkap pemburu liar di hutan pinus, bahkan dia sudah berhasil membawa 6 ekor Bedeng dan seekor anak harimau yang ditembaknya di gunung," kata pak Sukri. 

"Sekarang pemburu itu sudah ditahan di kantor polisi, kalian memang anak anak yang pemberani," lanjutnya. 

Raka, Tira, dan Leoni menjawab serentak, "sama sama paaak!" 

Dan petualangan mereka di hutan pinus hari itu adalah petualangan yang tak terlupakan, karena selain bisa bermain sepuas puasnya di air terjun, mereka juga berhasil membantu Polisi hutan menangkap pemburu liar. 





Comments

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos