Fiksi Eren; Cintaku Tertinggal Di Dinginnya Kota Batu

                        


Aku memarkir motorku lalu bergegas masuk sambil menenteng helm, aku melirik jam di tangan kiriku, 19.05, "ah masih sore," pikirku. 
Aku tersenyum senang saat melihat tempat duduk favoritku masih kosong. Dari tempat duduk favoritku di warung lesehan ini, aku bisa melihat indahnya kota Batu di waktu malam dengan jelas. Payung, begitu orang menyebut jejeran warung lesehan di pinggir jalan antara kota Batu dan kota Pujon ini. Jalan berkelok kelok ini berada di atas tebing dan di kanan kirinya merupakan hutan pinus. Kota Batu sendiri berada tepat di bawahnya, sehingga jika kita menemukan warung yang lokasinya strategis, kita bisa melihat kelap kelip kota Batu dari atas, eksotis. Warung warung ini biasanya menjual jagung bakar, pisang bakar, degan bakar, dan makanan ringan lain. Aku sendiri sering ke Payung untuk mendinginkan pikiran, bukan karena udaranya yang sangat dingin di malam hari, tapi karena suasananya yang nyaman dan menentramkan hati. 

Aku akhirnya memesan seporsi pisang bakar coklat, jagung bakar pedas, dan segelas kopi susu. Sambil menunggu pesanan, aku mengamati beberapa tamu yang ada disini, sebagian besar adalah pasangan muda mudi yang sedang berpacaran, ya iyalah, kan malam minggu. Aku tersenyum kecut, sepertinya tamu yang njomblo cuma aku, tapi kata orang kan hidup itu pilihan, dan menjomblo itu juga pilihan, maksudnya pilihan terakhir karena gak ada pilihan lain. 

"Aku sudah punya pacar Ren, sungguh, ma'afkan aku," aku mencari sumber suara, penasaran. Ternyata seorang cowok ganteng dan cewek cantik dengan rambut panjang sebahu. 

"Tapi ibumu dan ibuku yang mengatur semua ini, aku hanya menuruti saran mereka. Lagipula ibumu bilang kamu sudah lama tertarik sama aku,"  jawab si cewek. 

"Aku rasa itu cuma modus mereka supaya bisa besanan. Aku benar benar sudah punya pacar, dan aku sengaja menyuruh pacarku untuk menunggu kita disini untuk kukenalkan ke kamu," ujar si cowok sambil matanya mencari cari. Dia tersenyum saat tatapannya sampai ke wajahku. Aku tertunduk malu karena ketauan nguping. 

"Ini pacarku Ren, kenalin," tiba tiba mereka sudah berdiri di hadapanku. Pacar? kenal aja tidak kok diakuin pacar. Aku mengurungkan niatku untuk marah saat melihat muka si cowok yang menghiba. 

"Novi", ujarku akhirnya sambil mengulurkan tangan. 

*** 


Hampir setahun sejak perkenalanku dengan Dion di Payung. Lucunya, ternyata kami berdua punya banyak kesamaan hobi dan kegemaran. Kami sama sama senang berteman dengan alam. Berkat bantuan Dion pula, aku berhasil mencapai air terjun Coban Manten. Air terjun ini terletak di atas air terjun Coban Rondo. Jika Coban Rondo bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, Coban Manten harus ditempuh melalui medan yang sangat sulit dan menembus lebatnya hutan pinus. Jika dibanding 3 air terjun lain yang ada di kota Batu seperti, Coban Rondo, Coban Rais, dan Coban Talun, Coban Manten jauh lebih indah dan alami. 

"Sabtu ini kamu ada acara gak Nov," tanya Dion melalui telpon. 

"Gak, kenapa?, mau ngapelin aku ya?" jawabku sekenanya. 

"Ha ha ha, gila lu Nov, ngapel?, ha ha ha. Gak, ini anak anak ngajakin maen Flying Fox di gunung Banyak, ikut yuk," ajak Dion. 

Jawaban yang mengecewakan karena sebenarnya aku ngarep dia ngapel beneran. Aku menaruh hati sejak pertama jumpa, tapi sepertinya dia cuma menganggapku seperti teman temannya yang lain. Dengan rambut pendek, celana jeans belel dan T shirt seperti ini, sepertinya memang mustahil untukku mendapat pacar seperti Dion. 

"Boleh, tapi bayarin", jawabku akhirnya. Dion mengiyakan lalu menutup telpon setelah berjanji menjemputku sabtu pagi. 

2 minggu lalu dia mengajakku berarung jeram di Sungai Brantas, dan sekarang dia mengajakku bermain Flying Fox di gunung Banyak. Kadang kami juga ikut bersama beberapa teman mendaki gunung Panderman, gunung yang terletak di kota Batu yang sering dijadikan wisata hiking. 

Sebenarnya, aku sering berharap dia mengajakku dinner berdua atau nonton film romantis, atau paling tidak mengajakku ke Jatim Park, Musium Satwa, Musium angkut, atau Batu Night Spectakuler, sambil berpegangan tangan. Tapi harap tinggal harap, mimpi tak mungkin jadi nyata, dan aku berusaha untuk berkompromi dengan keadaan dan berpura pura bahagia sebagai seorang teman baik. 






"Nov, ada surat buat kamu di meja," kata ibuku saat aku masuk ke rumah. 

Aku mengiyakan dan segera membukanya. Tak lama, aku melonjak bahagia setelah tau isinya. Aku diterima kerja di sebuah perusahaan asing yang berkantor di Jakarta. Aku bahkan sudah lupa pernah mengirimkan lamaran ke perusahaan itu, tapi ternyata keberuntungan tengah berpihak kepadaku. 

Tapi sejurus kemudian aku teringat Dion, jika aku pergi ke Jakarta, artinya aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Namun aku sadar, toh bagi Dion aku cuma seorang teman, dan dia punya banyak teman selain aku. Lagipula, jika aku jauh darinya, kemungkinan aku bisa mengubur dalam dalam cinta dan harapanku yang tak mungkin menjadi kenyataan. 

***


"Jaga dirimu baik baik disana Nov, dan semoga kamu sukses," ujar Dion saat dia mengantarkanku ke stasiun kereta api di Malang dan aku mengangguk pelan. 


"Aku merasa sangat kehilangan kamu Nov, kamu teman terbaik yang aku punya selama ini," tambahnya. 

Ya, selama ini dia menganggapku sebagai teman dan aku selalu berharap dia menjadikanku seseorang yang spesial. Bertepuk sebelah tangan memang sangat menyedihkan, dan sepertinya keputusanku untuk meninggalkan Kota Batu adalah keputusan yang sangat tepat. 

Aku menepuk pundaknya pelan, "Kita akan selalu menjadi teman baik Dion, biarpun kita jauh, tapi persahabatan kita tak akan pernah putus."  

Lamat lamat terdengar alunan lagu milik RAN yang seperti sengaja menyindirku, "Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa. Ditinggal tanpa alasan, sudah biasa...."



#cerita fiksi ini ditulis oleh eren hNt 

Comments

Popular posts from this blog

Wow! Ada Pagupon camp dan Indian camp di Coban Talun, kota Batu

Homestay, Penginapan Alternatif di Kota Batu

Wana wisata Coban Rais, Mendadak nge-hits Karena Medsos